hahaha 😀

semua kembali dengan baik, semua terbuka..

mungkiin ini semua yang terbaik, saya sudah mengtakn semuanyaaaaa.. 😀

sekarang terserah masing-masing pribadi, apa yang harus dilakukan :)

terimakasih :) *sister

BOS BEM KM

ini salah satu organisasi yg gw jalanin smpe akhir taun 2011, Kementerian Budaya, Olahraga, dan Seni Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) IPB :)

Campuran bakterial mempermanis sintesis bioobat

Ditulis oleh Awan Ukaya pada 15-06-2010

Bakteri yang berada pada perut manusia diatur untuk menjadi pabrik yang bagus bagi obat biologis dan terima kasih telah memodifikasi beberapa gen dari spesies lain, yang menyebabkan gastroenteritis. Dengan menggunakan pasangan yang kedengarannya tidak mungkin, para peneliti dari Ammrika Serikat dan Swiss telah menciptakan metode bakterial pertama kali dalam pembuatan glycoprotein yang kebanyakan ditemukan pada tubuh manusia. Pendekatan ini memberikan kontrol yang belum terjadi sebelumnyaterhadap gula mana yang direkatkan pada protein dan selanjutnya dapat meningkatkan performa obat biologis.

‘Metode kombinasi dapa memberikan ini suatu cara efisien untuk menghasilkan obat glycoprotein buatan sendiri seperti antibodi monoclonal,’ jelas Lai-Xi Wang dari University of Maryland, Amerika Serikat. Sebagaimana glycoprotein, aktifitas antiobodi monoclonal sekarang ini dapat saja tidak konsisten dikarenakan bagian glycan – atau  polysaccharide – yang mereka hasilkan sangat banyak.   ‘Glycoprotein dihasilkan sebagai campuran in vivo,’ jelas Wang. ‘Hanya beberapa dari glycoform yang sangat aktif.’ Protein glycosylating yang homogen dengan glycan aktif menghasilkan obat yang lebih manjur.

Biasanya Escherichia coli yang tidak berbahaya dimana dapat memusnahkan mikroba telah digunakan dalam industri menghasilkan protein tetapi bukannya glycoprotein, dimana mereka tidak mampu untuk menambahkan gula yang fungsinya memodulasikan. ‘Pada umumnya bakteri tidak memiliki perlengkapan glycosylasi protein,’ jelas Wang. Namun begitu Markus Aebi dari Swiss Federal Institute of Technology (ETH) di Zurich telah menemukan bahwa bakteri Campylobacter jejuni yang berbahaya tidak memiliki kemampuan yang tidak biasa untuk merekatkan gula pada protein.
Rekayasa dan pentransferan perlengkapan glycosylasi dari C. jejuni kedalam E. coli dan kemudian menggunakan beberapa enzim untuk memodifikasi porsi gula menghasilkan protein ter-glycosylasi secara homogen

Sayangnya, C. Jejuni yang menghasilkan glycoprotein secara normal memicu respon kekebalan tubuh di manusia. Hal ini dikarenakan bakteri N-glycan, sebuah alpha yang dihubungkan N-acetyl galactosamine oligosaccharide, menempel pada residu asparagine dari protein melalui suatu aminosugar yang tidak biasa disebut dengan bacillosamine yang membuatnya tidak seperti glycan pada manusia. Aebi dan tim Wang merekayasa gen glycosylasi sebelum mentransfer mereka kedalam E. coli, untuk merubah gula yang pertama yang dilekatkan pada asparagine kedalam N-acetylglucosamine yang umumnya ditemukan di tubuh kita. Lalu, menggunakan metode enzimatik in vitro, mereka menghiasi dan menggantikan residu N-acetyl galactosamine dengan N-glycans yang dipilih mereka bagi glycosylasi ‘manusiawi’ homogen.

‘Kemampuan untuk mengekspresikan protein pada E. coli sangat mudah dan lebih murah,’ kata Antony Fairbanks dari University of Canterbury, New Zealand. Bagaimana Fairbanks, yang mendirikan perusahaan pentargetan obat di Inggris, Glycoform, mencatat bahwa sementara metode ini berhasil dengan glycoprotein C. jejuni , hal ini meng- glycosylasi antibodi immunoglobulin G yang umumnya pada manusia sedikit  tidak lengkap.

Andy Extance

Referensi

F Schwarz et al, Nature Chemical Biology, 2010, DOI: 10.1038/nchembio.314

Bidan molekular membantu kelahiran DNA

Ditulis oleh Awan Ukaya pada 17-06-2010

Untaian DNA pendek menyukai siklusisasi (atas), namun adanya keberadaan molekul interkalator (hijau) membentuk suatu rantai polymerik panjang

Para peneliti Amerika Serikat telah mengungkapkan petunjuk baru tentang bagaimana bentuk kehidupan paling awal telah tersusun pada sup purba. Rahasia tersebut kemungkinan adalah ‘bidan molekular’ – persenyawaan yang memerankan suatu peranan krusial dalam mengkombinasikan fragmen nucleotida kecil kedalam bahan polymeric genetic pertama kalinya.

‘Ada banyak sekali pertanyaan yang tidak terjawab tentang bagaimana polymer genetic pertama kali terbentuk pada zaman  prebiotik Bumi – yaitu tanpa adanya enzim protein yang ada sekarang ini,’ kata Nicholas Hud, yang memimpin penelitian pada Georgia Institute of Technology. ‘Kita menyelidiki bagaimana fragmen nucleotida kecil mungkin saja bergabung bersama-sama pada polymer yang panjang – membentuk untaian DNA atau RNA awal.’

Salah satu permasalahan dalam menyelidiki bagaimana DNA pertama terbentuk adalah rantai kecil dari nucleotida – sekitar tiga sampai empat basis panjangnya – cukup fleksibel untuk mengikat dengan diri mereka sendiri. Lebih lanjut mereka menyukai ikatan intramolekular dan cenderung untuk mengriting dan melingkar, dengan membentuk cincin kecil dari pada rantai yang panjang.

Sekarang ini, tim Hud telah menemukan bahwa keberadaan senyawa tertentu dapat menstabilakan perkembangan untaian DNA. Persenyawaan tersebut dikenal sebagai interkalator – molekul besar yang datar yang dapat menyelip antara basis di DNA yang seperti papan kayu – dengan memegang struktur di tempat dengan interaksi non-kovalen. Persenyawaan ini diistilahkan dengan nama bidan molecular oleh tim ini, karena sesekali polymer ini terbentuk mereka tidak lama dibutuhkan lagi.

Dua contoh dari bidan ini adalah ethidium dan coralyne – senyawa organis yang multicincin dan besar, namun tidak seperti kedua dari senyawa tersebut yang menjadi bidan pertama kali. ‘Pekerjaan kami mengusulkan bahwa mungkin adanya molekul bidan planar yang ikut serta pada permulaan kehidupan di Bumi ini,’ kata Hud. ‘Namun hal ini tetap tidak teridentifikasi dan mungkin saja masih ada disekitar.’

Salah satu prospek yang membangkitkan minat adalah molekul bidan yang pertama bertanggung jawab dalam menyeleksi kombinasi paangan dasar dari adenine-thymine (A-T) dan cytosine-guanine (C-G) yang membuat DNA. Sementara ethidium diteemukan dapat menstabilkan pasangan tradisional Watson-Crick, azacyanine aza3 ditemukan dapat menstabilkan suatu system alternative dimana adenine mengikat pada adenine (A-A).

‘Molekul bidan berbeda dapat saja selektif pada system berbeda dari pemasangan dasarnya,’ kata Hud. ‘Hipotesa kami  adalah molekul bidan yang asli membantu memilih pasangan dasar yang digunakan dalam DNA.’

‘Studi ini menunjukkan hal yang sangat baik sekali bahwa suatu kombinasi asam nucleic dan molekul yang tidak terkait secara struktural  kelihatannya menghasilkan system yang dapat mereplikasi sendiri – dan selanjutnya dalam kehidupan – dari pada asam nucleic sendiri,’ kata Clemens Richert, seorang ahli pada DNA di University of Stuttgart, Jerman.

Lewis Brindley

Referensi

E Horowitz et al, Proc. Natl. Acad. Sci. USA, 2010, DOI: 10.1073/pnas.0914172107

Mengapa Protein begitu penting bagi hidup kita ?

Kecukupan akan protein yang dianjurkan untuk seseorang, umumnya berbeda-beda. Ini tergantung pada berat badan, umur, dan jenis kelamin serta banyaknya jaringan tubuh yang masih aktif, seperti otot-otot dan kelenjar. Makin besar dan berat orang itu, semakin banyaklah jaringan aktifnya, sehingga makin banyak pula protein yang diperlukan untuk mempertahankan atau memelihara jaringan-jaringan tersebut.

Tahukah Anda? Bahwa sebenarnya protein merupakan komponen terbesar dari tubuh manusia setelah air. Jumlahnya 1/6 dari berat tubuh manusia (1/3 dari jumlah tersebut terdapat di dalam otot, 1/5 terdapat pada tulang, 1/10 terdapat pada kulit, lalu sisanya terdapat pada berbagai cairan tubuh).

Kebutuhan protein bisa diperoleh dari 2 sumber bahan pangan yaitu protein hewani dan protein nabati. Sumber terbaik protein hewani adalah daging dari mamalia, unggas, dan ikan laut. Sedangkan sumber terbaik dari protein nabati adalah dari kacang-kacangan. Bahkan dengan kemajuan teknologi, kini banyak dikembangkan sumber protein baru yang dikenal dengan protein non-konvensional seperti protein daun, protein konsentrat dan protein sel tunggal.

Protein tersusun dari sejumlah asam amino. Asam amino yang membentuk protein pada dasarnya dapat digolongkan menjadi 2 golongan yaitu asam amino esensial (diperlukan oleh tubuh tetapi tidak dapat dibentuk oleh tubuh) dan asam amino nonesensial (diperlukan oleh tubuh dan dapat terbentuk tubuh bila bahannya tersedia).

Secara garis besar protein diperlukan oleh tubuh sebagai zat pembangun, zat pengatur dan sebagai bahan bakar. Zat pembangun, protein merupakan bahan untuk membentuk jaringan baru didalam tubuh. Zat pengatur, protein ikut berperan serta dalam mengatur berbagai proses di dalam tubuh baik secara langsung maupun tidak langsung. Bahan bakar, protein akan dibakar manakala keperluan tubuh akan energi tidak terpenuhi oleh hidrat arang dan lemak.

Sumber : Clickwok